Masyarakat Tanpa Uang Tunai

Dari dulu keberadaan uang tidak bisa dilepaskan dari kehidupan manusia. Keterbatasan maupun kelebihan sumber daya yang dimiliki oleh setiap orang sangat bervariasi sehingga mereka saling membutuhkan satu sama lain. Awalnya untuk memenuhi kebutuhan, mereka saling bertukar barang atau yang selama ini dikenal barter. Sejalan dengan kompleksitas yang dihadapi, muncullah satuan yang disepakati bersama sebagai suatu nilai atau yang dikenal sampai sekarang dengan uang.

Penggunaan uang walaupun dari satu sisi sangat nyaman karena mudah dan cepat, namun pada kondisi tertentu dapat menimbulkan kendala. Kebutuhan transaksi ekonomi yang semakin tinggi dan beragam menjadi sulit diakomodir apabila metode pembayarannya masih menggunakan cash. Dapat dibayangkan sulitnya melakukan pembayaran pembelian mobil, atau barang berharga lain mesti menggunakan uang tunai. Selain bingung cara membawanya, risiko dirampokpun cukup tinggi. Belum lagi untuk pembayaran yang dilakukan di dua tempat yang berbeda, tentunya ongkosnya pun cukup tinggi karena risikonya yang sangat besar.

Kebutuhan yang semakin beragam tadi akhirnya diakomodir dengan munculnya ragam pembayaran non cash. Mulai dari penggunaan cek, wesel, bilyet giro, transfer melalui bank dan yang paling marak saat ini berbagai ragam metode pembayaran menggunakan kartu. Munculnya ragam pembayaran tadi sejauh ini sangat menolong masyarakat untuk dalam menjalankan aktivitas ekonominya, bahkan dengan semakin berkembangnya teknologi elektronik semakin memungkinkan transaksi lebih cepat dan efisien seperti munculnya electronic banking menggunakan internet, telepon maupun sms atau mobile banking.

Sistem setelmenpun sudah sedemikian cepat. Transfer dana antarbank dapat dilakukan secara real time menggunakan sistem RTGS terutama bagi bank-bank yang sistem internalnya juga sudah online. Transfer yang melalui kliring juga sudah lebih cepat apalagi semenjak diadopsinya SKNBI yang mengintegrasikan seluruh wilayah kliring di daerah-daerah. Dengan demikian aliran uang tidak lagi berjalan secara fisik tapi sudah mengarah ke elektronik.

Untuk pembayaran yang lebih ritel lagi masyarakat sudah semakin biasa mengunakan instrument kartu seperti kartu kredit, ATM maupun Debet. Ini bisa dilihat pertumbuhan penggunaan kartu yang pesat sekali.

E-Money Sebagai Pendorong LCS

Fenomena baru yang mulai muncul sejak pertengahan tahun 2006 adalah mulai adanya instrument baru khususnya untuk segmen pembayaran yang lebih mikro atau yang disebut e-money. Fenomena e-money yang selama ini sudah digunakan dibeberapa negara seperti Hongkong dengan octopusnya, Malaysia dengan …Singapura dengan……dan masih banyak lagi mulai muncul di Indonesia sejak BI mengeluarkan ketentuan mengenai hal ini pada akhir tahun 2005. E-money yang berkembang diluar negeri tersebut pada umumnya digunakan untuk pembayaran mass rapid transport, jalan tol, tiket parkir, pembayaran di pusat perbelanjaan dan sebagainya.

Segmen pembayaran ini nampaknya memiliki peluang berkembang yang cukup besar. Bank Indonesia sebagai regulator di bidang sistem pembayaran melihat hal ini sebagai suatu kesempatan untuk meningkatkan kapasitas ekonomi masyarakat dengan mendorong pertumbuhan e-money ini. Banyaknya manfaat yang diperoleh seperti, berkurangnya biaya handling uang, antrian pembayaran tiket toll atau pembelian makanan fastfood, tidak perlu dompet terlalu tebal, belum lagi manfaat perputaran uang yang pastinya menjadi lebih cepat. Selain itu untuk jenis harga-harga tertentu yang pecahannya tidak dapat disediakan oleh BI, dengan e-money hal ini menjadi mungkin. Buat BI, apabila penggunaan e-money sudah tersebar di seluruh lapisan masyarakat, tentunya akan mengurangi biaya cetak uang, pengadaan maupun pengedarannya.

Sifat   e-money yang penggunaannya lebih ditujukan untuk skala pembayaran yang sangat mikro diharapkan dapat menjadi faktor pendorong LCS. Fungsinya yang mirip dengan penggunaan uang secara trandisional paling potensial untuk menyentuh masyarakat dari kalangan manapun. Dan tiap orang tidak perlu memiliki rekening di bank untuk dapat memiliki e-money ini.

Inisiatif BI

Merujuk hal tersebut, sejak tahun 2006 BI telah melaksanakan program inisiatif untuk mendorong masyarakat yang semakin sedikit menggunakan uang tunai  atau slogan yang diusungnya  yakni Less Cash Society –LCS. Sebagai suatu kegiatan yang  benar-benar baru, pada awal tahun 2006, inisiatif LCS diawali dengan upaya pengenalan atau awareness pada masyarakat, lembaga keuangan, Pemerintah, Akademisi mengenai apa itu LCS. Kegiatan seminar internasional dan pengajaran ke berbagai perguruan tinggi dan wartawan yang merupakan corong efektif untuk mengenalkan LCS mulai dilakukan termasuk sosialisasi melalui media elektronik. Selain itu dilakukan pula survey untuk melihat peta sejauh mana persepsi, keinginan dan prilaku masyarakat maupun lembaga keuangan baik bank maupun non bank untuk meningkatkan penggunaan instrument non tunai.

Dari hasil kegiatan yang dilakukan pada tahun 2006 tersebut ternyata mendapat respon yang baik dari masyarakat. Nampaknya ada semacam keyakinan bahwa LCS bisa diterima masyarakat. Dari kegiatan survey paling tidak ada tiga hal yang memperkuat keyakinan tersebut. Pertama, masyarakat sebenarnya sudah siap menggunakan alat pembayaran non tunai asalkan infrastrukturnya sudah tersedia. Hasil survey menunjukkan bahwa 71% nasabah bank sebenarnya telah familiar menggunakan instrument pembayaran non tunai. Bahkan ketika ditanyakan mengenai e-money, ternyata 64,5% responden menginginkan instrument ini cepat dapat digunakan dan 73% dari responden pengusaha juga telah bersedia menerima pembayaran dengan e-money ini.

Kedua, dari kalangan perbankan sendiri sebenarnya juga telah menyiapkan berbagai saluran pembayaran non tunai yang semakin memudahkan nasabahnya. Misalnya jaringan ATM yang sudah sedemikian banyak dengan fasilitas transfer yang semakin beragam. Apalagi nasabah juga sudah dimanjakan dengan fasilitas transfer melalui internet, sms dan telepon. Malah, ternyata beberapa bank juga sudah memiliki ancang-ancang untuk mengembangkan e-money terlihat dari survey yang menunjukkan 51% dari seluruh bank. Pun ketika ditanya tingkat optimisme mereka terhadap pengembangan ini ternyata 80,5% menyatakan yakin bahwa pengembangan e-money akan semakin pesat dimasa mendatang.

Ketiga, semakin banyaknya institusi non bank yang tertarik untuk mengembangkan e-money. Pada umumnya berlatar belakang sebagai institusi telekomunikasi karena dari sisi teknologi mereka paling siap dan sebenarnya telah memiliki kartu prabayar untuk telpon yang mirip-mirip dengan penggunaan e-money. Institusi lain yang tertarik dan sebenarnya memiliki masterplan yang menuju kearah sana adalah pengelola jalan tol, dimana cita-cita ini banyak terinspirasi dengan pengelolaan tol di luar negri yang nyaris tanpa antrian pada saat membayar. Kemudian pembayaran tiket transportasi umum seperti kereta dan bis. Pengalaman yang paling sukses adalah penerapan octopus di Hongkong yang awalnya hanya untuk pembayaran moda transportasi sekarang sudah merambah keseluruh sektor ekonomi. Terakhir adalah beberapa perusahaan retail besar yang sangat senang apabila masyarakat semakin less cash dalam melakukan pembelanjaannya. Bayangkan jika omset harian yang mencapai ratusan juta itu dalam bentuk tunai, tentunya ongkos untuk handling, keamanan belum waktu penghitungan atau rekonsiliasinya akan membutuhkan sumber daya yang tidak sedikit dan biaya tinggi.

Dan memang benar adanya, kesiapan perbankan maupun lembaga selain bank untuk menerbitkan e-money mulai terwujud. Pada tahun ini mulai ada 4 penerbit e-money, dua dari bank dan dua lagi dari perusahaan telekomunikasi. Memang respon masyarakat belum terlalu tinggi. Ini wajar karena pada tahapan ini baik penerbit masih mencari bentuk yang tepat atau upaya perluasan pasar dan infrastruktur masih dalam tarap test market.

Masyarakat pun perlu diyakinkan benar akan keamanan instrument baru ini. Walaupun dari survey sebagian besar masyarakat mendambakan instrument ini, namun kebiasaan memegang uang masih ternyata menjadi budaya. Sehingga langkah-langkah yang dilakukan BI pada tahun 2007 adalah semakin meningkatkan awareness masyarakat. Upaya sosialisasi semakin sering dilakukan. Kegiatan yang dilakukan selama tahun 2006 ditingkatkan frekuensinya. Dan pada tahun ini mulai dilakukan pengiklanan melalui media masa serta talkshow di media elektronik.      

Namun sangat disadari keberhasilan upaya LCS ini tidak terlepas dari kesiapan seluruh komponen pendukungnya, seperti perangkat hukum, infrastruktur teknologi, kemudahan penggunaan dan sisi perlindungan konsumennya. Dari sisi perangkat hukum, BI merencanakan akan merelease paket ketentuan penyelenggaraan e-money yang menyempurnakan paket ketentuan sebelumnya. Ini penting untuk memberikan arah serta rambu-rambu yang jelas bagi pengembangan e-money. Infrasruktur juga menjadi factor krusial keberhasilan pengembangan e-money, apabila diyakini aman, cepat, gampang digunakan dan semakin memudahkan masyarakat pasti tingkat penerimaan masyarakat akan tinggi. Ini juga menjadi marketing yang ampun bagi pengembangan e-money. Satu lagi adalah prinsip perlindungan konsumen yang harus dijunjung tinggi oleh penerbit maupun calon penerbit. Karena apabila masyarakat dirugikan sudah pasti akan menjadi preseden buruk bagi pengembangan e-money. Interoperability dan perlindungan konsumen ini pun menjadi persyaratan utama yang akan dituangkan pada ketentuan nantinya.

Sebagai suatu instrument baru, pengembangan e-money di Indonesia sangat berpeluang untuk berjalan dengan optimal. Pertama, kita bisa melihat dan mencontoh perkembangan e-money di negara yang sudah sukses menerapkannya. Kedua, Interoperability juga lebih mudah diterapkan karena perkembangannya di drive oleh ketentuan, sehingga arahnya akan jelas bagi calon penerbit. Ketiga, Bank Indonesia bisa berperan optimal sebagai fasilitator pengembangan e-money terutama untuk mewujudkan standarisasi instrument sehingga efisiensi infrastruktur secara nasional dapat tercipta, yang ujung-ujungnya biaya yang dibebankan ke masyarakat akan semakin murah. Hal ini akan sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Leo Van Hove yang menyatakan bahwa manfaat LCS akan menghemat….GDP.

Setelah mencermati keberadaan LCS, tentunya kita dapat bertanya bagaimana pengaruh keberadaan LCS terhadap perekonomian secara makro? Dari pengamatan selama ini ditunjukkan bahwa pengaruh less cash terhadap variabel makro ekonomi cenderung menunjukkan hasil yang positif. Hasil penelitian awal yang dilakukan Bank Indonesia menunjukkan bahwa pembayaran non tunai berpengaruh positif pada peningkatkan kegiatan perekonomian. Disamping itu, penggunaan pembayaran non tunai juga menciptakan efisiensi karena semakin rendahnya biaya transaksi yang turut berpengaruh pada tingkat harga (inflasi). Dalam tataran teoritis, pengamatan tersebut sejalan dengan pemikiran klasik yang menyatakan bahwa perputaran transaksi ekonomi yang semakin cepat akan meningkatkan pertumbuhan ekonomi dalam jangka panjang. 

Masyarakat Tanpa Uang Tunai

Dari dulu keberadaan uang tidak bisa dilepaskan dari kehidupan manusia. Keterbatasan maupun kelebihan sumber daya yang dimiliki oleh setiap orang sangat bervariasi sehingga mereka saling membutuhkan satu sama lain. Awalnya untuk memenuhi kebutuhan, mereka saling bertukar barang atau yang selama ini dikenal barter. Sejalan dengan kompleksitas yang dihadapi, muncullah satuan yang disepakati bersama sebagai suatu nilai atau yang dikenal sampai sekarang dengan uang.

Penggunaan uang walaupun dari satu sisi sangat nyaman karena mudah dan cepat, namun pada kondisi tertentu dapat menimbulkan kendala. Kebutuhan transaksi ekonomi yang semakin tinggi dan beragam menjadi sulit diakomodir apabila metode pembayarannya masih menggunakan cash. Dapat dibayangkan sulitnya melakukan pembayaran pembelian mobil, atau barang berharga lain mesti menggunakan uang tunai. Selain bingung cara membawanya, risiko dirampokpun cukup tinggi. Belum lagi untuk pembayaran yang dilakukan di dua tempat yang berbeda, tentunya ongkosnya pun cukup tinggi karena risikonya yang sangat besar.

Kebutuhan yang semakin beragam tadi akhirnya diakomodir dengan munculnya ragam pembayaran non cash. Mulai dari penggunaan cek, wesel, bilyet giro, transfer melalui bank dan yang paling marak saat ini berbagai ragam metode pembayaran menggunakan kartu. Munculnya ragam pembayaran tadi sejauh ini sangat menolong masyarakat untuk dalam menjalankan aktivitas ekonominya, bahkan dengan semakin berkembangnya teknologi elektronik semakin memungkinkan transaksi lebih cepat dan efisien seperti munculnya electronic banking menggunakan internet, telepon maupun sms atau mobile banking.

Sistem setelmenpun sudah sedemikian cepat. Transfer dana antarbank dapat dilakukan secara real time menggunakan sistem RTGS terutama bagi bank-bank yang sistem internalnya juga sudah online. Transfer yang melalui kliring juga sudah lebih cepat apalagi semenjak diadopsinya SKNBI yang mengintegrasikan seluruh wilayah kliring di daerah-daerah. Dengan demikian aliran uang tidak lagi berjalan secara fisik tapi sudah mengarah ke elektronik.

Untuk pembayaran yang lebih ritel lagi masyarakat sudah semakin biasa mengunakan instrument kartu seperti kartu kredit, ATM maupun Debet. Ini bisa dilihat pertumbuhan penggunaan yang diawal tahun 2004 baru sekitar….ribu transaksi saat ini sudah mencapai….ribu transaksi.

E-Money Sebagai Pendorong LCS

Fenomena baru yang mulai muncul sejak pertengahan tahun 2006 adalah mulai adanya instrument baru khususnya untuk segmen pembayaran yang lebih mikro atau yang disebut e-money. Fenomena e-money yang selama ini sudah digunakan dibeberapa negara seperti Hongkong dengan octopusnya, Malaysia dengan touch and goSingapura dengan EZ link dan masih banyak lagi mulai muncul di Indonesia sejak BI mengeluarkan ketentuan mengenai hal ini pada akhir tahun 2005. E-money yang berkembang diluar negeri tersebut pada umumnya digunakan untuk pembayaran mass rapid transport, jalan tol, tiket parkir, pembayaran di pusat perbelanjaan dan sebagainya.

Segmen pembayaran ini nampaknya memiliki peluang berkembang yang cukup besar. Bank Indonesia sebagai regulator di bidang sistem pembayaran melihat hal ini sebagai suatu kesempatan untuk meningkatkan kapasitas ekonomi masyarakat dengan mendorong pertumbuhan e-money ini. Banyaknya manfaat yang diperoleh seperti, berkurangnya biaya handling uang, antrian pembayaran tiket toll atau pembelian makanan fastfood, tidak perlu dompet terlalu tebal, belum lagi manfaat perputaran uang yang pastinya menjadi lebih cepat. Selain itu untuk jenis harga-harga tertentu yang pecahannya tidak dapat disediakan oleh BI, dengan e-money hal ini menjadi mungkin. Buat BI, apabila penggunaan e-money sudah tersebar di seluruh lapisan masyarakat, tentunya akan mengurangi biaya cetak uang, pengadaan maupun pengedarannya.

Sifat   e-money yang penggunaannya lebih ditujukan untuk skala pembayaran yang sangat mikro diharapkan dapat menjadi faktor pendorong LCS. Fungsinya yang mirip dengan penggunaan uang secara trandisional paling potensial untuk menyentuh masyarakat dari kalangan manapun. Dan tiap orang tidak perlu memiliki rekening di bank untuk dapat memiliki e-money ini.

Inisiatif BI

Merujuk hal tersebut, sejak tahun 2006 BI telah melaksanakan program inisiatif untuk mendorong masyarakat yang semakin sedikit menggunakan uang tunai  atau slogan yang diusungnya  yakni Less Cash Society –LCS. Sebagai suatu kegiatan yang  benar-benar baru, pada awal tahun 2006, inisiatif LCS diawali dengan upaya pengenalan atau awareness pada masyarakat, lembaga keuangan, Pemerintah, Akademisi mengenai apa itu LCS. Kegiatan seminar internasional dan pengajaran ke berbagai perguruan tinggi dan wartawan yang merupakan corong efektif untuk mengenalkan LCS mulai dilakukan termasuk sosialisasi melalui media elektronik. Selain itu dilakukan pula survey untuk melihat peta sejauh mana persepsi, keinginan dan prilaku masyarakat maupun lembaga keuangan baik bank maupun non bank untuk meningkatkan penggunaan instrument non tunai.

Dari hasil kegiatan yang dilakukan pada tahun 2006 tersebut ternyata mendapat respon yang baik dari masyarakat. Nampaknya ada semacam keyakinan bahwa LCS bisa diterima masyarakat. Dari kegiatan survey paling tidak ada tiga hal yang memperkuat keyakinan tersebut. Pertama, masyarakat sebenarnya sudah siap menggunakan alat pembayaran non tunai asalkan infrastrukturnya sudah tersedia. Hasil survey menunjukkan bahwa 71% nasabah bank sebenarnya telah familiar menggunakan instrument pembayaran non tunai. Bahkan ketika ditanyakan mengenai e-money, ternyata 64,5% responden menginginkan instrument ini cepat dapat digunakan dan 73% dari responden pengusaha juga telah bersedia menerima pembayaran dengan e-money ini.

Kedua, dari kalangan perbankan sendiri sebenarnya juga telah menyiapkan berbagai saluran pembayaran non tunai yang semakin memudahkan nasabahnya. Misalnya jaringan ATM yang sudah sedemikian banyak dengan fasilitas transfer yang semakin beragam. Apalagi nasabah juga sudah dimanjakan dengan fasilitas transfer melalui internet, sms dan telepon. Malah, ternyata beberapa bank juga sudah memiliki ancang-ancang untuk mengembangkan e-money terlihat dari survey yang menunjukkan 51% dari seluruh bank. Pun ketika ditanya tingkat optimisme mereka terhadap pengembangan ini ternyata 80,5% menyatakan yakin bahwa pengembangan e-money akan semakin pesat dimasa mendatang.

Ketiga, semakin banyaknya institusi non bank yang tertarik untuk mengembangkan e-money. Pada umumnya berlatar belakang sebagai institusi telekomunikasi karena dari sisi teknologi mereka paling siap dan sebenarnya telah memiliki kartu prabayar untuk telpon yang mirip-mirip dengan penggunaan e-money. Institusi lain yang tertarik dan sebenarnya memiliki masterplan yang menuju kearah sana adalah pengelola jalan tol, dimana cita-cita ini banyak terinspirasi dengan pengelolaan tol di luar negri yang nyaris tanpa antrian pada saat membayar. Kemudian pembayaran tiket transportasi umum seperti kereta dan bis. Pengalaman yang paling sukses adalah penerapan octopus di Hongkong yang awalnya hanya untuk pembayaran moda transportasi sekarang sudah merambah keseluruh sektor ekonomi. Terakhir adalah beberapa perusahaan retail besar yang sangat senang apabila masyarakat semakin less cash dalam melakukan pembelanjaannya. Bayangkan jika omset harian yang mencapai ratusan juta itu dalam bentuk tunai, tentunya ongkos untuk handling, keamanan belum waktu penghitungan atau rekonsiliasinya akan membutuhkan sumber daya yang tidak sedikit dan biaya tinggi.

Dan memang benar adanya, kesiapan perbankan maupun lembaga selain bank untuk menerbitkan e-money mulai terwujud. Pada tahun ini mulai ada 4 penerbit e-money, dua dari bank dan dua lagi dari perusahaan telekomunikasi. Memang respon masyarakat belum terlalu tinggi. Ini wajar karena pada tahapan ini baik penerbit masih mencari bentuk yang tepat atau upaya perluasan pasar dan infrastruktur masih dalam tarap test market.

Masyarakat pun perlu diyakinkan benar akan keamanan instrument baru ini. Walaupun dari survey sebagian besar masyarakat mendambakan instrument ini, namun kebiasaan memegang uang masih ternyata menjadi budaya. Sehingga langkah-langkah yang dilakukan BI pada tahun 2007 adalah semakin meningkatkan awareness masyarakat. Upaya sosialisasi semakin sering dilakukan. Kegiatan yang dilakukan selama tahun 2006 ditingkatkan frekuensinya. Dan pada tahun ini mulai dilakukan pengiklanan melalui media masa serta talkshow di media elektronik.      

Namun sangat disadari keberhasilan upaya LCS ini tidak terlepas dari kesiapan seluruh komponen pendukungnya, seperti perangkat hukum, infrastruktur teknologi, kemudahan penggunaan dan sisi perlindungan konsumennya. Dari sisi perangkat hukum, BI merencanakan akan merelease paket ketentuan penyelenggaraan e-money yang menyempurnakan paket ketentuan sebelumnya. Ini penting untuk memberikan arah serta rambu-rambu yang jelas bagi pengembangan e-money. Infrasruktur juga menjadi factor krusial keberhasilan pengembangan e-money, apabila diyakini aman, cepat, gampang digunakan dan semakin memudahkan masyarakat pasti tingkat penerimaan masyarakat akan tinggi. Ini juga menjadi marketing yang ampun bagi pengembangan e-money. Satu lagi adalah prinsip perlindungan konsumen yang harus dijunjung tinggi oleh penerbit maupun calon penerbit. Karena apabila masyarakat dirugikan sudah pasti akan menjadi preseden buruk bagi pengembangan e-money. Interoperability dan perlindungan konsumen ini pun menjadi persyaratan utama yang akan dituangkan pada ketentuan nantinya.

Sebagai suatu instrument baru, pengembangan e-money di Indonesia sangat berpeluang untuk berjalan dengan optimal. Pertama, kita bisa melihat dan mencontoh perkembangan e-money di negara yang sudah sukses menerapkannya. Kedua, Interoperability juga lebih mudah diterapkan karena perkembangannya di drive oleh ketentuan, sehingga arahnya akan jelas bagi calon penerbit. Ketiga, Bank Indonesia bisa berperan optimal sebagai fasilitator pengembangan e-money terutama untuk mewujudkan standarisasi instrument sehingga efisiensi infrastruktur secara nasional dapat tercipta, yang ujung-ujungnya biaya yang dibebankan ke masyarakat akan semakin murah.

 Setelah mencermati keberadaan LCS, tentunya kita dapat bertanya bagaimana pengaruh keberadaan LCS terhadap perekonomian secara makro? Dari pengamatan selama ini ditunjukkan bahwa pengaruh less cash terhadap variabel makro ekonomi cenderung menunjukkan hasil yang positif. Hasil penelitian awal yang dilakukan Bank Indonesia menunjukkan bahwa pembayaran non tunai berpengaruh positif pada peningkatkan kegiatan perekonomian. Disamping itu, penggunaan pembayaran non tunai juga menciptakan efisiensi karena semakin rendahnya biaya transaksi yang turut berpengaruh pada tingkat harga (inflasi). Dalam tataran teoritis, pengamatan tersebut sejalan dengan pemikiran klasik yang menyatakan bahwa perputaran transaksi ekonomi yang semakin cepat akan meningkatkan pertumbuhan ekonomi dalam jangka panjang.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: